• PENGUNJUNG SEKALIAN WEBLOG INI MASIH DALAM DESAIN SEHINGGA MASIH AKAN ADA PERUBAHAN, SALAM. KIPRa PAPUA
  • KABILA

  • Kategori

  • PILIHAN



Hasil Kajian Cepat Tim Kemanusiaan dan untuk Bantuan Korban Gempa Bumi (KIPRa Papua, PRIMARY, KOLINCA Jayapura)

Sektor Perumahan dan Tempat Tinggal

Dari hasil wawancara dan pengamatan singkat atau observasi langsung di lapangan, dapat disimpulkan bahwa umumnya rumah penduduk yang rusak berat terbuat dari konstruksi batu tela (Batako), sedangkan rumah yang terbuat dari konstruksi kayu pada umumnya dalam kondisi baik atau masih dapat ditempati(tradisional) atau semi permanen, dan kalaupun rusak , tidak mengalami perubahan bentuk. Sebagian masyarakat di Kecamatan Amberbaken, telah menerima bantuan perumahan dari dinas sosial dengan konstruksi semi permanent namun ada juga warga masyarakat yang tinggal dirumah tradisional dengan dinding anyaman bambu dan atap daun sagu, namun pada umumnya masing-masing rumah memiliki tambahan rumah tradisional di bagian belakang yang digunakan sebagai dapur atau tempat berdiskusi bagi anggota keluarga

Dari 5 kampung yang berhasil dikunjungi rata-rata rumah yang ditampati tidak mengalami kerusakan yang berarti, terdapat beberapa bagian yang retak pada lantai dan pergeseran kosen jendela dan rangka pintu namun masih bias dihuni, bangunan pelayanan umum misalnya Gereja, Sekolah dan Kantor Pemerintah distrik yang umumnya berkonstruksi beton justru mengalami kerusakan yang paling parah, hanya 1 kampung yaitu Wefiani berdasarkan hasil pengamatan langsung oleh tim dinyatakan paling parah karena dari 53 bangunan rumah baik dengan konstruksi semi permanent maupun tradisional hanya 2 rumah saja yang menagalami rusak ringan dan masih layak huni sedangkan lainnya mengalami rusak berat bahwkan ambruk atau roboh ke tanah.

Dari beberapa lokasi atau kampung yang dikunjungi sebagian warga masih terlihat waspada dengan menempati tenda bantuan atau juga milik pribadi yang dibangun disamping rumah mereka, kebanyakan ini dilakukan pada saat isitrahat malam untuk mencegah terjadinya kepanikan akibat trauma saat terjadi gempa susulan yang kemungkinan merusak tempat tinggal atau rumah mereka. Ini dilakukan karena mereka biasanya hanya memiliki satu buah rumah semi permanent dan tidak membuat rumah tradisional, (rumah panggung) atau juga yang kesemuanya mengalami rusak berat sehingga terpaksa mereka tinggal di tenda darurat untuk menunggu waktu aman dan dapat memperbaiki rumah mereka.

Salah satu contoh tenda bantuan yang digunakan untuk berlindung keluarga pada malam hari di beberapa kampung didistrik Amberbaken.

Namun dari hasil pengamatan dilapangan terdapat pula warga masyarakat yang telah kembali menempati rumah mereka namun untuk istirahat pada malam hari mereka lebih memilih tidur di rumah tradisional yang dibangun dibelakang atau disamping rumah semi permanent miliknya yang dibangun oleh pemerintah. Menurut pendapat mereka bahwa jika terjadi gempa, resiko terburuk yang dihadapi jika berada di rumah tradisional lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah semi permanent yang dibangun oleh pemerintah

Salah satu contoh bangunan rumah tradisional yang dibangun dibelakang rumah Semi permanent, milik masyarakat Kampung Arupi Distrik Amberbaken

Rata-rata warga masyarakat di distrik Amberbaken memiliki 2 rumah, selain rumah Semi permanent yang dibangun pemerintah juga rumah tradisional dari yang bertipe panggung, yang kedua ini adalah rumah asli mereka, kebiasaan mereka untuk tidak membongkar dan tetap mempertahankan rumah lama dan biasanya digunakan sebagai dapur dan ruang makan atau juga tempat untuk berkumpul keluarga
Untuk distrik Amberbaken, keberadaan rumah semi permanent yang dibangun oleh pemerintah umumnya mengalami kerusakan ringan dimana beberapa bagian mengalami retak namun dari hasil pengamatan langsung dapat dikatakan masih layak huni, hanya satu kampung yaitu Kampung Wefiani memang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dimana dari 64 rumah, 3 rumah permanent ambruk, 59 rusak berat, 4 diantaranya rumah semi permanen dan tersisa 2 rumah semi permanen yang rusak ringan

Kondisi sebuah rumah warga di Kampung Wefiani Distrik Amberbaken yang ambruk

Namun dalam kondisi masyarakat yang demikian kacau pasca terjadinya gempa maih ada upaya untuk bertahan dan melindungi dari dari kondisi alam sebelum datang bantuan dari pemerintah atau pihak-pihak yang bersimpati yaitu adanya inisiatif beberapa warga untuk membangun rumah darurat secara tradisional dari bahan bangunan yang masih layak digunakan seperti atap rumah lantai dan kayu-kayu yang diperoleh dari rumah lama yang rusak, inisiatif ini membuat mereka dapat bertahan sampai datangnya bantuan tenda dari pemerintah.
Sebagian besar warga kampung Wefiani sendiri sampai saat ini masih memilih tinggal di lokasi pengungsian sementara yang berjarak ± 2 km dari kampung kearah gunung dengan menggunakan tenda-tenda bantuan, hal ini dilakukan karena kondisi kampung yang dianggap belum aman ditempati karena masih terjadi gempa susulan dengan frekuensi yang masih tinggi selain itu ada rasa takut akan terjadinya tsunami, selain itu trauma warga akibat gempa itu sendiri sangat membekas dalam ingatan mereka.

Jumlah rumah warga pasca bencana gempa :
Distrik Amberbaken

Jml Rmh     Rusak Rign     Rusak Berat
1. Kampung Arupi:            35                       17                          1
2. Kampung Wekari :        45                      45
3. Kampung Saukorem:   82                        5                         24
4. Kampung Wasara :
5. Kampung Wefiani :       66                       55                           8
6. Kmapung Sasui :               –                          –                           -
7. kampung Imbuwan :      -                           -                           -

Pelapor:

Stevie Lewerissa, Eduard Agaki,(KIPRa Papua)

Dhalien Kaway (KOLINCA Jayapura)

Tinggalkan Balasan